BERITA TERKINI

Guru Teladan Jadi Wakil Rakyat Di Senayan

pks.kotategal - Sekitar tahun 1992, mungkin akan menjadi tahun yang penuh dengan penderitaan sekaligus paling terkenang dalam hidup pria satu ini. Saat itu, sang istri yang tengah hamil tua terpaksa melahirkan anak kedua di rumah biasa, bukan rumah bersalin seperti layaknya Ibu – ibu hamil lainnya. Fikri Faqih, begitulah nama pria yang saat ini duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, tak menyangka bahwa keputusannya untuk bergabung dengan para aktivis tarbiyah mendapat penolakan yang sedemikian ekstrim. Hampir semua rumah bersalin di Slawi, Tegal, jawa Tengah menolak kelahiran putra kedua Fikri, Miqdad, dikarenakan hanya satu hal. Fikri dan keluarga waktu itu dicap pengikut aliran sesat, sehingga semua rumah bersalin menolak untuk membantu kelahiran sang istri.

Namun demikian setelah Fikri dan sang istri terus berjalan menggunakan Vespa, meminta pertolongan seseorang, pada akhirnya sang bayi pun lahir dengan selamat, berkat bantuan sekeluarga yang baik hati di daerah Pesayangan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Itulah sekelumit kisah yang cukup menyedihkan bagi Fikri, dan para aktivis dakwah dimasa awal kelahiran dakwah. Mereka  disebut oleh masyarakat sekitar sebagai aliran yang berbeda dan cenderung menyesatkan masyarakat.

Tahun 1990an, saat benih – benih dakwah ini mulai bersemi, tribulasi dan tantangan hebat memang langsung menghampiri jamaah ini. Cobaan berupa fitnah yang dahsyat pun sempat di alami oleh Fikri. Kajian – kajian yang sering dilakukan oleh jamaah Ulinuha Tegal yang menjadi satu – satunya lembaga resmi dakwah waktu itu, membuat masyarakat sekitar merasa asing dengan kebiasaan para jamaah Ulinuha. Itulah yang membuat jamaah ulinuha dan para kader didalamnya menerima fitnah yang luar biasa karena dianggap sesat. Dan bagi Fikri dan kawan – kawannya di generasi awal tarbiyah, hal tersebut tentu menjadi tantangan yang harus dihadapi. Berbekal keyakinan yang sepenuh hati, Fikri pun tetap pada komitmennya untuk terus berjuang bersama dakwah, hingga kini, dan selamanya.

Bergabung bersama generasi awal dakwah
A Fikri Faqih, pria yang saat ini mendapatkan amanah sebagai Ketua DPW PKS jawa Tengah, mungkin tak menyangka rintisan dakwah yang dulu ia rasakan bersama segelintir teman – temannya, saat ini berkembang sangat pesat, membuat Partai, ikut Pemilu, dan ikut berkontribusi dalam melayani masyarakat. Karakter organisatoris memang sangat melekat dalam diri seorang Fikri Faqih. Tercatat, sejak SMP dirinya sudah mulai aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII) Slawi Kabupaten Tegal. Bahkan saat memasuki masa SMA, Fikri sudah menduduki jabatan Ketua Pengurus Daerah (PD PII) pada tahun 1979. Dan semenjak itu pula sentuhan tarbiyah mulai ia rasakan, karena ia bersinggungan langsung dengan Zuber Safawi, yang saat ini menjabat sebagai Aleg DPR RI.

Hal yang paling menarik adalah saat Fikri mulai masuk di ranah kehidupan kampus, saat ia mengambil jurusan Pendidikan Teknik Elektro IKIP Negeri Semarang, (sekarang Unnes). Meski dia pada awalnya tak begitu aktif di PII, namun aktifitasnya yang berbau masjid masih terus ia lakukan. Menjadi pengurus Masjid Al – Huda Kampus IKIP Negeri Semarang, sampai yang paling mengesankan adalah ketika memperjuangkan hak – hak muslimah untuk berjilbab melalui gerakan Jilbab di sekolah.

Karena pada waktu itu memang pemerintah terutama instansi pendidikan sangat ekstrim memperlakukan aturan seputar jilbab. Dan bahkan sampai ada muslimah yang ketika ketahuan berjilbab, langsung dikeluarkan dari kelas. Untuk itu pada akhirnya Fikri bersama teman – teman masjidnya berjuang sekuat tenaga untuk mengadvokasi kaum jilbabers tersebut. Dan pada akhirnya setelah berjuang dengan segala cara, muslimah pun dapat menikmati kebebasannya dalam menutup aurat dengan jilbab.

Setelah sempat tidak aktif di PII, Fikri kemudian kembali ke organisasi ini dan langsung menjabat sebagai Wakil ketua Pengurus Wilayah (PW PII) untuk periode 1983 -1986 bersama koleganya Ikhsan Mudzakir. Keaktifannya kembali di PII inilah yang menjadi cikal bakal pertemuannya dengan Mutamimul ‘Ula, perintis dakwah Jawa Tengah, hingga akhirnya prosesi rekrutmen tarbiyah pun terjadi. Pada waktu itu tahun 1986, sejak kuliahnya usai, ia dihubungi Mutamimul ‘Ula untuk mengikuti Dauroh Rekrutmen Tarbiyah, dan pada akhirnya ia resmi ikut halaqoh yang dibina langsung oleh Mutamimul ‘Ula. Fikri ikut liqo bersama Kamal fauzi, Jatmiko (sekarang Ketua Partai Bulan Bintang), Ferry Firman, Abdul Wakhid, dan Zuber Safawi.

Selain ikut halaqoh tarbiyah, Fikri juga ditarik untuk membantu mengajar di STM Muhammadiyah Slawi, dan dijadikan kepala sekolah STM mengingat waktu itu sekolah ini baru rintisan. Karena posisi Fikri yang menjadi kepala Sekolah inilah, Fikri juga bisa mengajak para guru di Sekolah untuk ikut mengaji. Namun demikian, awal tahun 1990an, Fikri dan teman – temannya mulai dicurigai sebagai ajaran sesat. Sampai kemudian terdengar istilah untuk para aktivis dakwah ini dijuluki kaum sujud nglabruk dan injak – injak kaki. Hal itu juga karena diakibatkan pada waktu itu para aktivis dakwah ini berbeda dalam penetapan Hari raya. Hari Raya pemerintah hari Kamis, sementara jamah dakwah yang tergabung dalam Mahad Ulinuha ini ber idul Fitri pada hari Selasa. Hal ini juga yang mengakibatkan masyarakat sekitar memberikan cap aliran sesat kepada jamaah Mahad Ulinuha yang berisikan para generasi awal tarbiyah. Sehingga selain kelahiran anak keduanya ditolak karenan tuduhan semacam ini, Fikri diturunkan jabatannya menjadi Guru Biasa, bukan lagi sebagai Kepala STM Muhammadiyah. Namun demikian hal tersebut tak menyurutkan langkah Fikri untuk selalu istiqomah di dalam dakwah.

Setelah menikah pada tahun 1990, Fikri kemudian mendapatkan amanah dakwah menjadi Ketua Dewan Pembina Mahad Ulinuha. Amanh baru menjadika Fikri semakin semangat untuk memperkarya wawasan di bidang dakwah dan tarbiyah. Hal itu dilakukan dengan mengikuti liqo tansiqi yang diselenggarakan di Yogyakarta, Surakarta, Tegal, dan Jawa Timur. Hal itu terus dilakukan Fikri dan teman – teman seangkatannya seperti kamal Fauzi, Muhammad Haris, dan teman – temannya yang lain sampai menjelang awal berdirinya Partai keadilan (PK) yang kelak menjadi organisasi resmi para aktivis dakwah pada tahun 1998.

Menjelang diputuskannya deklarasi pembentukan PK, seluruh aktivis dakwah di Indonesia melakukan pemungutan suara meminta jajak pendapat kader – kader di daerah, terkait memilih Ormas atau Parpol. Fikri yang waktu itu juga memiliki hak suara termasuk yang memilih pembentukan Ormas daripada Partai. Akan tetapi karena suara terbanyak adalah Partai, maka diputuskanlah pembentukan PK, yang di deklarasikan di Masjid Sunda Kelapa, Depok. Di Jawa tengah ada Jamaah yang mewakili aktivis dakwah dari wilayah, yakni Jamaah Ulinnuha di eks-Karesidenan Pekalongan, Jamaah Qolbun Salim yang mewakili eks karesidenan Surakarta. Setelah PK berdiri, Partai ini lalu berhak mengikuti Pemilu pertama kali pasca reformasi, yaitu tahun 1999.

Fikri Faqih yang pada Pemilu 1999 masih menjabat sebagai Guru PNS di SMK Muhammadiyah Slawi, menghadapi peraturan baru, yaitu PP No 5/12/1999 tentang PNS yang tidak diperbolehkan menjadi anggota Partai Politik. Padahal  waktu itu Fikri diminta untuk menjadi Calon Anggota Legislatif (Caleg) Kabupaten Tegal. Pada akhirnya setelah konsultasi dengan keluarga, murobbi, dan para koleganya, Fikri melepas jabatannya sebagai guru dan lebih memilih terjun ke Partai Politik PK yang dia besarkan bersama teman – temannya para aktivis dakwah. Singkat cerita, Fikri Faqih pada akhirnya terpilih menjadi Anggota Legislatif DPRD Kabupaten Tegal pada tahun 1999.

Guru Teladan

Peraturan Pemerintah (PP) No 5/12/1999 tentang PNS yang tidak diperbolehkan menjadi anggota Partai Politik rupanya membuat bimbang sosok Fikri faqih. Dia harus memilih tetap menjadi PNS atau melepasnya agar bisa bergabung menjadi Anggota Partai keadilan (PK). Setelah berkonsultasi dengan keluarga, akhirnya Fikri memilih untuk bergabung dengan PK. Padahal kalau dikalkulasi dari tingkat kesejahteraan, menjadi guru pada waktu itu memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dari sekedar Anggota DPRD. Pada tahun itu, 1999, Gaji PNS adalah 710.000, selisih 100.000 dari gaji DPRD yang hanya memiliki gaji 610.000.

Namun bagi Fikri, hal tersebut tergantung motivasinya, dan dia lebih memiliki motivasi untuk terjun dalam dunia politik, melayani masyarakat, dan pelan – pelan memperbaiki bangsa yang sedang dalam masa transisi. Oleh karena itu dengan tekad bulat dan dukungan penuh dari pihak keluarga, kerabat, dan para aktivis dakwah di seluruh Jawa Tengah, Fikri Faqih maju menjadi Caleg DPRD Kabupaten Tegal periode `1999-2004. Pada akhirnya Fikri terpilih menjadi Anggota DPRD Partai keadilan.

Walaupun sudah melepaskan jabatannya sebagai PNS, kontribusi Fikri dan prestasi di dunia pendidikan sungguh luar biasa. Fikri pernah menjadi Guru teladan ketiga dan satu –satunya dari Sekolah Swasta yang meraih kategori ini. Kategori guru teladabn ini ia dapatkan setelah dirinya aktif menjadi Juri dalam Lomba Karya Ilmiah remaja (KIR) yang diselenggarakan di skeolah – sekolah Tegal. Selain itu, Fikri juga aktif menulis di berbagai media massa, sehingga hal tersebut menjadikan diirnya Guru Teladan Kabupaten Tegal.

Menjadi Qiyadhah Dakwah Jawa Tengah

Fikri Faqih seperti ditakdirkan terlahirkan menjadi juru selamat dan kader dakwah yang membawa kebermanfaatan bagi ummat. Hal itu tak lepas dari perannya yang sangat sentral untuk Partai dakwah yang ia rintis sejak awal tahun 1990an sampai akhirnya menjadi besar dengan gerbong Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Tercatat setelah dirinya terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Tegal, amanah struktural pun menghampirinya. Tahun 1999 diamanahi sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) PKS Kabupaten Tegal. Kemudian pada tahun 2000- 2004, Fikri diberikan amanah sebagai Ketua Daerah Dakwah Lima (Dadali) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jawa Tengah. Setelah sukses merintis dakwah dan membangun di daerah dakwah lima, Fikri kemudian diamanahi sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Jawa Tengah, terhitung sejak tahun 2004 – 2009.

Seiring pergantian pengurus di DPW, Fikri kemudian melanjutkan kiprahnya dalam Partai Dakwah dengan menjadi Ketua DPW PKS Jateng untuk periode 2010 – 2015. Tentu berbagai bekal dan pengalaman Fikri selama ini menjadi modal baginya untuk menjadi qiyadhah dakwah Jawa Tengah, mengkorrdinasikan DPD – DPD se-jawa tengah dalam mengemban amanah dakwah.

Sang Qiyadhah pelayan rakyat

Selain menjadi sosok qiyadhah atau pemimpin bagi PKS Jawa Tengah, Abdul Fikri Faqih juga sejak awal berdirinya Partai langsung berkecimpung dalam kontribusi kepada masyarakat. Hal itu dilakukannya sejak dia menjadi Anggota DPRD PK Kabupaten Tegal. Ia adalah satu – satunya Aleg dari PK waktu itu yang langsung menjabat sebagai Sekretaris Fraksi PPK (Persatuan Pembangunan dan Keadilan), karena waktu itu PK bergabung dengan PPP di DPRD Kabupaten Tegal. Berada Komisi A yang membidangi masalah Pemerintahan. Fikri dianggap pas oleh koleganya sesama anggota DPRD lainnya menjadi sekretaris Komisi karena pengalaman Fikri yang memang pernah menjadi organisatoris saat masih kuliah, yakni di PII.

Setelah selesai menjadi Aleg DPRD Kabupaten, sesuai hasil keputusan Syuro, Fikri dicalonkan menjadi Aleg Provinsi dari Dapil 10, dan pada akhirnya bersama 7 orang rekannya, yakni Agus Abdul Latif, Kamal Fauzi, Aisyah Dahlan, Mahmud Mahfudz, Muhammad Haris, dan Sukoco terpilih menjadi aleg Provinsi Jawa Tengah dari PKS. Dan dikarenakan pengalamannya pernah sebagai Aleg, Fikri kemudian didaulat untuk menjadi Ketua Fraksi PKS, sampai 2009.  Selain jadi Ketua Fraksi, Fikri juga menjabat sebagai Koordinator Aleg PKS se-Jawa tengah. Dan seringkali Fikri menyelenggarakan agenda pertemuan bersama dengan Aleg PKS se-jateng.

Tahun 2009, untuk kedua kalinya Fikri Faqih dipercaya masyarakat di Dapil 10 menjadi Aleg Provinsi untuk kedua kalinya, kali ini, dia pun langsung mendapatkan amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, untuk masa bakti 2009 – 2014. Dengan demikian Fikri menjadi wakil rakyat sejak tahun 1999 sampai 2014, atau kurang lebih sekitar 14 tahun. Tentu waktu yang sangat lama untuk bisa berkontribusi dengan masyarakat, dan lebih dekat dengan rakyat jawa Tengah.

Pejabat yang sederhana

Meskipun jabatannya saat ini adalah sebagai seorang Wakil Ketua DPRD Provinsi dan juga Ketua DPW PKS Jawa Tengah, hal tersebut tidak merubah wataknya yang selalu ingin tampil sederhana. Hal itu dibuktikan ketika awal – awal Fikri datang ke Semarang, dia langsung taat asas dengan berdomisili di Semarang. Karena memang waktu itu sesuai UU Tahun 2004 tentang SUSDUK, menyatakan bahwa Aleg Provinsi harus berdomisili di Ibukota Provinsi. itulah yang pada akhirnya membuat Fikri harus berdomisili di Semarang. Tepatnya waktu itu dengan mengontrak di Jalan Menteri Supeno Semarang.

Walaupun kemudian pada tahun 2006 sudah memiliki rumah sendiri di kawasan palebon, Semarang, hal itu tak mengubah kesederhanaan dalam sikap dan perilakunya. Ia pun mengajarkan kepada anak – anaknya untuk selalu hidup dalam kesederhanaan. Ia memberikan pembelajaran kepada anak – anaknya bahwa seseorang harus selalu siap dengan segala kondisi yang ada. Kadang berada diatas, dan juga di bawah.

Fikri juga selalu berpedoman bahwa setiap kader dakwah harus siap dengan segala kondisi yang ada. Bahasa yang ia gunakan adalah sam’an wa tho’atan. Siap ditunjuk kapanpun untuk mengemban amanah dakwah, akan tetapi disatu waktu yang lainnya, juga harus siap ketika tidak dijadikan apa – ada dalam dakwah ini. Yang terpenting dari semua itu menurut Fikri adalah bahwa jadikan setiap aktivitas ini bernilai dengan dakwah, fokus dengan dakwah, insyaallah hasilnya akan dicapai ketika ikhlas menerimanya.

Kini Fikri terpilih menjadi salah satu dari empat wakil rakyat dari Jateng yang duduk di Senayan. Fikri pun siap melaksanakan amanah rakyat, menjadi pelayan masyarakat Indonesia.[dm/pksjateng]

Anis Matta : Di Wajah Prabowo Ada Aura Seorang Presiden

PALEMBANG, pks-kotategal.org - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta mengajak massa pendukung Prabowo Subianto-Hatta Rajassa untuk kembali melihat aura presiden yang ada di wajah Prabowo. Menurutnya, Prabowo Subianto adalah calon yang tepat untuk memimpin Indonesia.
"Tatap wajah calon Presiden kita. Mumpung matahari masih bersinar cerah. Apakah anda lihat ada aura presiden di wajah beliau? Ya, aura presiden itu cukup bagi kita yakin untuk memilih Prabowo sebagai pemimpin Indonesia," ujarnya ketika berorasi di kampanye akbar pasangan Prabowo-Hatta di pelataran Benteng Kuto Besak, Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (12/6).
Uniknya, di tengah-tengah acara kampanye ada salah satu pendukung pasangan Prabowo-Hatta yang berprofesi sebagai penjual racun tikus dengan bersemangat naik ke atas panggung dan mengatakan bahwa Prabowo-Hatta akan menyelamatkan Indonesia.
Kampanye akbar yang dimulai pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 11.30 WIB ini juga turut diramaikan pula oleh artis ibukota Uut Permatasari dan Denada.
Selain menghadiri kampanye akbar di Benteng Kuto Besak, Prabowo beserta rombongan mengikuti rangkaian kegiatan di Palembang. Rombongan bersilatuhim ke rumah Pembina Kerukunan Keluarga Palembang H. Alim. Ikut hadir disana pembina Partai Demokrat Marzuki Ali. Setelah itu dilanjutkan ke pasar 16 ilir dan ditutup dengan konferensi pers di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Setelah Kampanye Akbar di Palembang, rombongan langsung bertolak untuk melanjutkan kampanye di Lampung.
Sumber: pks.or.id

Terkait Pilpres, Presiden PKS: Masyarakat Sudah Cerdas untuk Memilih

Depok (20/1) - pks-tegalkota.com - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta menghadiri acara silaturahim ulama, tokoh dan relawan PKS se-Kota Depok di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok, Senin (20/1). Dalam konferensi persnya, Anis mengatakan bahwa kunjungannya tidak terkait dengan penyapresan dirinya.
"Saat ini, kita di sini melakukan koordinasi dengan seluruh kader dan relawan untuk pemenangan 2014," kata Anis kepada wartawan.
Didampingi Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail, Anis menjelaskan bahwa terkait calon Presiden masyarakat sudah cerdas untuk memilih, "demokrasi kita sudah terbangun baik, kadernya baik, panggungnya baik, kita kembalikan ke masyarakat untuk memilih," tambahnya.
Disinggung apakah PKS akan berkoalisi pada pemilihan Presiden mendatang, Anis mengatakan PKS masih akan menunggu hasil pemilihan legislatif.
"Kita semua partai sedang menunggu hasil pemilu legislatif, tapi tidak tahu juga dengan hasil Constitutional Review UU terkait Pemilu legislatif, semua menunggu hasil pileg untuk bagaimana koalisi kedepannya," ungkap Anis.
Terkait survey, Anis menjelaskan bahwa PKS menganggap semua hasil survey sebagai peringatan jika buruk, dan juga tidak tinggi hati jika hasilnya bagus, karena menurutnya hasil akhir penghitungan suara selalu memberikan kejutan. "Pengalaman kami dulu 2009, hasil survey selalu buruk tapi alhamdulillah hasil akhir penghitungan suaranya bagus. Jadi kami terima semua hasil survey sebagai cambuk untuk kami bekerja lebih baik lagi," paparnya.
Selanjutnya Anis menegaskan, Saat ini fokus partai ada pada pemenangan pemilu legislatif dan bantuan bencana banjir di wilayah-wilayah banjir, terutama wilayah banjir yang kader PKS menjadi Kepala Daerah atau Wakilnya.
"Tadi ada Gubernur Jawa Barat, Pak Ahmad Heryawan hadir disini, insya Allah nanti malam kemari lagi," pungkas Anis dengan tersenyum. (pks.or.id)

PKS Jateng Dirikan Posko Banjir Pantura

SEMARANG (22/1),pks-tegalkota.com — Curah hujan yang terus meninggi sepekan terakhir ini mengakibatkan banjir mulai melanda kawasan pantura Jawa Tengah. Dari data yang dihimpun, setidaknya wilayah Jepara, Kudus, Semarang, Kendal hingga kawasan Pekalongan mengalami banjir yang cukup parah. Akibatnya banyak warga yang terpaksa harus mengungsi.
Melihat kondisi ini, kesatuan Cepat Tanggap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jawa Tengah segera bergerak untuk menangani bencana tahunan ini. PKS mendirikan posko dan memberikan bantuan untuk korban banjir di semua wilayah banjir Jateng
Menurut Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Jateng, Fikri Faqih, pihaknya masih akan terus berupaya untuk membantu semaksimal mungkin penanganan banjir ini.
 “Kita akan terus melakukan penanganan dengan memberikan bantuan kepada korban banjir, mendirikan posko banjir, dan terus berkoordinasi dengan BPBD setempat melakukan upaya evakuasi dan pemulihan,” kata Fikri.
Sementara itu, Tim Cepat Tanggap PKS Jateng juga meluncur ke lokasi bencana di Kudus untuk melakukan evakuasi warga. “Tim kita sedang bergerak menuju Kudus semalam, karena banjir Kudus cukup parah sehingga Tim Kepanduan kita terjunkan kesana,” ungkap Solikin, Komandan Korps Kepanduan PKS Jateng yang juga koordinator Tim Tanggap Bencana.
Selain menerjunkan tim, PKS Jateng juga memberikan bantuan kepada korban banjir yang mengungsi, terutama di Pekalongan dan Jepara. Para tokoh PKS pun turun langsung memberikan bantuan kepada korban banjir tersebut.
Di Pekalongan, PKS Kabupaten dan PKS Kota Pekalongan berkolaborasi untuk menangani banjir di wilayah tersebut dengan mendirikan posko terpadu. Selain posko terpadu, para kader, simpatisan dan para caleg PKS setempat juga aktif memberikan bantuan berupa mie instan, beras dan nasi bungkus kepada para pengungsi banjir Pekalongan.
Banjir di wilayah Pantura diperkirakan akan mencapai puncaknya hari ini dan besok (21-22) sehingga tim cepat tanggap PKS terus bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.[pksjateng]

PKS Tegaskan Siap Koalisi dengan Semua Partai di 2014


pks-tegalkota.com - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Muhammad Taufik Ridho menegaskan partainya siap berkoalisi dengan semua partai politik pada Pemilu 2014, termasuk partai oposisi seperti PDIP, Hanura, dan Gerindra.

"Kami terbuka dalam koalisi (termasuk dengan partai oposisi)," kata Taufik di Kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (29/12/2013).

Namun, Taufik mengatakan hingga saat ini partainya belum menentukan secara pasti mitra koalisi dalam Pilpres mendatang. PKS meyakini perubahan tak bisa dilakukan sendiri saja, tapi harus bermitra yakni dalam bentuk koalisi.

"Kran koalisi kami buka lebar karena dalam melakukan perubahan tidak bisa sendiri," ujar Taufik.

Taufik menilai, peta pencapresan dari seluruh parpol akan terlihat setelah Pemilu Legislatif diketahui hasilnya. Seluruh parpol akan mengatur strategi dalam pilpres setelah mengetahui hasil pileg termasuk dalam merancang peta koalisi.

"Semua (parpol) mengatur strateginya kecuali judicial review (UU Pilpres) disetujui Mahkamah Konstitusi maka ada perubahan peta politiknya," terangnya.

Maka dari itu, meskipun pilpres masih harus menunggu hasil pileg 9 April 2014 mendatang, PKS tidak mau terlambat dalam mempersiapkan diri menghadapi pileg dan pilpres. Terutama dalam mengajukan kadernya sebagai bakal capres.

"Kalau parpol lain berani, maka kami tidak. Saat ini kedewasaan kader sudah mumpuni, sehingga menilai mengapa tidak dimunculkan (bakal capres) saat ini," tandas Taufik.[lip6]

Bisakah PKS 3 Besar di Pemilu 2014? Insya Allah Bisa, Ini Syaratnya (Bag. 1)

pks-tegalkota.com - PKS atau dikenal juga dengan Partai Keadilan Sejahtera menjadi sorotan sepanjang hari, apapun yang dilakukannya. Artikel ini Saya tulis terkait dengan potensi PKS untuk menjadi 3 Besar di Pemilu 2014 mendatang, mendapatkan Nomor Urut 3 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadikan PKS memiliki visi menjadi 3 besar pada Pemilu 2014 mendatang.

Sebuah pertanyaanya adalah Bisakah meraih 3 Besar? Semua Kader PKS dari Presiden hingga akar rumput meyakini Bisa, setidaknya jawabanya adalah Insya Allah Bisa!.

Saya mencoba mengorek sedikit mengapa keyakinan itu begitu besar untuk tercapainya 3 Besar di Pemilu 2014 mendatang. Artikel ini akan bersambung berdasarkan Sub pokok bahasanya.

Survei terbaru yang digelar oleh Media Survei Nasional (Median) menempatkan PKS di urutan 3 besar.  Bahkan berdasarkan hasil survei yang digelar selama 28 April-6 Mei 2013 ini PKS adalah partai dengan tingkat loyalitas pemilih paling tinggi.

Seperti apa gambarannya?

Kita lihat hasil Survei yang digelar MEDIAN beberapa waktu lalu, PKS meraih 7,2 persen suara dari total 1.450 responden, jika Pemilu digelar saat ini. Hal ini menempatkan PKS di urutan ke tiga di bawah Golkar (17,1%) dan PDIP (16,7%).

Jika diurut maka :

GOLKAR (17,1 %)

PDI-P (16,7 %)

PKS (7,2 %)


Survei ini digelar Media Survei Nasional (Median) selama 28 April-6 Mei 2013. Survei menggunakan 1.450 sampel dari seluruh WNI yang memiliki hak pilih dengan margin of error sebesar 2.57% dengan tingkat kepercayaan 95%. Sampel dipilih secara random dengan teknik Multistage Random Sampling dan proporsional atas populasi Propinsi dan gender di 33 provinsi.

Direktur Eksekutif Media Survei Nasinal (Median) Riko Marbun memaparkan popularitas PKS tak terjun bebas saat ini. Dia juga membantah survei tersebut dipesan oleh PKS.

Setidaknya dengan hasil survei ini menanamkan optimisme bahwa PKS bisa naik peringkat dari Pemilu 5 tahun lalu, alasan paling simple adalah Kader PKS Solid tetap memilih PKS dengan Slogan “AYTKTM = Apapun Yang Terjadi Kami Tetap Melayani”

3 Hal Penting yang menjadi alasan PKS berada di Peringkat 3 Besar berdasarkan riset MEDIAN ini adalah :

KINERJA PKS (18 %)

RELIGIUS (12 %)

SOLIDITAS (11%)


Jika Anda melihat 3 faktor ini akan identik dengan Pemilih yang Muda, Intelektual, Profesional dan Aktif Meningkatkan Spritualitas diri. Anak muda yang terdidik identik melihat kinerja ketimbang isu yang berkembang, apa yang mereka rasakan, apa yang mereka lihat dan apa yang mereka saksikan secara langsung. Hal ini bisa dibuktikan dengan Kinerja Kader PKS yang menjadi Gubernur, Wakil Gubernur, Walikota dan Bupati di seluruh Indonesia. Anak muda yang masuk kelompok Intelektual, Terdidik dan Profesional dapat melihat secara langsung apa yang dilakukan Ahmad Heryawan (Gubernur Jabar), Irwan Prayitno (Gubernur Sumsel), Pujo Nugroho (Gubernur Sumut), Nur Mahmudi Ismail (Walikota Depok), dan masih banyak lagi lainnya. Menariknya lagi PKS memiliki tradisi mengaudit Kinerja Kader yang menjadi Pejabat Publik.

” Ada atau tidak (ada survei), kita sudah terbiasa melakukan evaluasi, itu kerja rutin tiap minggu. Partai juga ada mekanisme evaluasi bulanan dan tahunan,” kata Hidayat Nur Wahid usai menemui dengan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin di kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Rabu (17/10). (Repbulika.com)

Kinerja akan mengalahkan Isu apapun bagi kaum muda terdidik, ini catatan pentingnya.

Jika melihat dari Religius misalnya, Anak Muda dengan rentang usia 20 - 35 tahun adalah usia yang akan diisi kelompok (Religius atau Sekuler), Religius terlihat begitu banyak anak muda yang aktif di pengajian umum disela-sela bekerja, tetap sholat ditengah kesibukan, mendengarkan radio islam dari Android yang mereka pegang atau radio-radio mobil dalam perjalanan mereka. Menjadi Partai Religius dengan Kader Religius merupakan karakter PKS yang tidak bisa dicopot lagi. Dalam sebuah kesempatan Tifatul Sembiring mengatakan :

“Fokusnya pada kompetensi moral dan religiusitas mereka (kader). Religius dan bermoral itu tidak bisa berdiri sendiri,” kata Tifatul di Gran Melia, Jakarta, Senin (28/1/2013) malam. (Kompas)

Ada yang melihat begitu indahnya “SOLIDITAS” Kader PKS yang diterpa “badai”, tidak tergoyahkan, tetap bekerja, tetap menemui masyarakat, tetap melayani walaupun mungkin saja dicaci maki karena pemberitaan TV, tetapi justru TETAP KONSISTEN nya Kader inilah membuat yang tidak peduli menjadi peduli seakan-akan bertanya ” Ada Apa Sich Di PKS Sehingga tetap solid dan kokoh walaupun dipijokan di Media”

Maka tidak heran, ketika Isu LHI yang digunakan untuk menghangcurkan PKS menjadi tidak berguna, para Aktivis yang ingin “mengubur” PKS membuat isu baru yang menyebutkan bahwa LHI merupakan korban Anis Matta yang berambisi menjadi Presiden PKS. Dan Isue ini pun tidak mempan juga, entahlah apalagi yang akan digunakan kelompok Anti PKS untuk meraih mimpinya “PKS Terkubur” di Pemilu 2014 mendatang.

Apa yang membuat PKS begitu solid? Pembinaan pekanan untuk 1 juta kadernya dan simpatisanlah jawabannya. Pembinaan rutin yang berfungsi menjaga semangat dan ruhiyah untuk terus beramal tanpa peduli dengan apapun yang orang lain katakan. Jika dianalisa, 3 katagori yang disukai masyarakat diatas dimiliki oleh Kaum Muda

Karakter Pemilih Indonesia Tahun 2014

Jika melihat struktur usia penduduk berdasarkan hasil Badan Pusat Statistik terlihat data sebagai berikut : (International Leadership Seminar, 2013)

Rata-Rata Usia Penduduk Dunia

Jepang : 47 Tahun

Eropa : 40 Tahun

USA : 36 Tahun

China : 37 Tahun

Indonesia : 28 Tahun

India : 24 Tahun
Struktur Penduduk Dunia (Bahan International Leadership Seminar, 2013)
Artinya, Pasar yang paling besar atau pemilih yang paling besar di Indonesia adalah Anak Muda, dengan melihat budaya PKS yang senang membina masyrakat melalui Yayasan, Masjid, Karang Taruna, Ormas Kepemudaan sepertinya ini dapat menjadi alasan PKS bisa menjadi 3 Besar pada Pemilu 2014 mendatang dengan Syarat menjaga pemilih muda yang sudah ada dan menggaet pemilih muda yang baru dengan marketing mumpuni terutama anak muda yang belum memutuskan memilih partai manapun.

Untuk basic Pemuda yang Intelektual, Terdidik dan Profesional dengan melihat Kinerja PKS, Religius dan Soliditas dapat dikatakan cukup konsisten melakukan pembinaan rutin oleh kader-kadernya, pemilih muda kelompok ini akan terjaga.

BERSAMBUNG….
Sumber :

Survei : PKS Masuk 3 Besar
Kemenangan Aher Bukti Kepercayaan Anak Muda
Inilah : Meski Diterpa Badai, Suara PKS Tetap Stabil

Oleh: Adi Supriadi
Follow Twitter saya: @assyarkhan

HNW Duduki Peringkat Pertama Pada Pemira PKS

pks-tegalkota.com - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengumumkan hasil Pemilihan Raya (Pemira) calon Presiden (capres) yang digelar pada tanggal 29 dan 30 November 2013 lalu melalui konferensi pers yang digelar di Kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKS, Jl. TB. Simatupang, Jakarta (29/12/2013).

Dalam konferensi pers ini Sekretaris Jenderal (Sekjen) PKS Taufik Ridho yang juga ketua Lembaga Pelaksana dan Penokohan Kader (LPPK) mengatakan dari 22 calon yang menjadi kandidat Pemira PKS, Hidayat Nur Wahid menduduki peringkat pertama dengan persentase 18,34 persen.

“Lima terbesarnya adalah yang pertama, Hidayat Nur Wahid dengan perolehan suara 50.567 suara atau 18,34 %, kemudian yang kedua Anis Matta 48.152 suara atau 17,46 %, kemudian di posisi ketiga yaitu Ahmad Heryawan dengan perolehan suara 46.014 suara atau 16,69 %,” papar Taufik.

Sementara di peringkat keempat dan kelima diduduki oleh Tifatul Sembiring dan disusul di posisi kelima yaitu Nur Mahmudi Ismail. “Tifatul Sembiring di posisi keempat dengan perolehan suara 31.742 suara atau 11,50 % dan diperingkat kelima yaitu Nur Mahmudi Ismail 20.249 suara atau 7,41 %,” tambahnya.

Lebih lanjut Taufik mengatakan bahwa hasil Pemira ini akan diserahkan ke Majelis Syuro PKS untuk ditentukan siapa saja dari lima kandidat teratas yang akan di uji publik. “Nanti Majelis Syuro yang akan memutuskan 5 besar untuk uji publik, atau 3 besar untuk uji publik atau justru 1 besar untuk uji publik,” pungkas Taufik.[dakwatuna]
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template | PKS PIYUNGAN
Copyright © 2011. DPD PKS TEGAL KOTA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger